ABDULIZATOR

FASIH ABDULLAH IN THE TIME ROOM

REAL SOUL

                          WHO IS IT ?
 
 

ASSALAMU'ALAIKUM...  

HELLO EVERY ONE, I'M FASIH ABDULLAH (LEFT)

AND ON MY RIGHT SIDE IS MR. MOH HATTA.

YOU CAN CALL ME WITH FASIH. I'M FROM SONGPUTRI VILLAGE. IT IS FOOT OF 

ONE THOUSAND MOUNTAIN
 
 

SAY NO TO BE ENGAGED

 

MY MIND

DENGAN NAFAS MIMPI OBSESI,ITULAH HARI SUNGGUH BERARTI // MESKI HARI INI KAU TAK BERARTI,HARI ESOK KAN BERSERI // MENJADI API PENERANG HARI

WIDGETS

 

SUARA JIWAKU

 

HAL INDAH TLAH KULALUI  

HAL GUNDAH APALAGI

BERKALI-KALI RASUKU HATI

JADI DIRIKU MEMANG TAK MUDAH

SEPERTI MAKHLUK ASING DI TENGAH BUMI

BANYAK CACI..BANYAK MAKI..BANYAK SANGSI

NAMUN KU TAK PERDULI

 

WALAU KU BERJALAN TERTATIH-TATIH

OBSESIKU HARUS TRUS BERJALAN TANPA KENAL LETIH

SELAMA JARI MASIH BISA MENARI

SELAMA KAKI MASIH BISA BERDIRI

TAK ADA ALASAN TUK MUNDUR

BUKTIKAN PADA DUNIA

KU BISA JADI SOSOK JIWA SEJATI

DI DUNIA DAN DI ALAM ABADI
 
 

HEADLINE

Larangan Menara Masjid Menjalar di Eropa

Selasa, 1 Desember 2009 - 12:02 wib
text TEXT SIZE :  
Share
Nurfajri Budi Nugroho - Okezone
Geert Wilders (Foto: Press TV)

DEN HAAG - Larangan pembangunan menara masjid di Swiss menjalar ke negara-negara Eropa lainnya, dengan adanya seruan di Belanda, Belgia, dan Italia untuk menggelar referendum melarang simbol Islam tersebut.

"Kami akan mendesak pemerintah untuk menggelar referendum serupa di Belanda," kata Geert Wilders, pemimpin sayap kanan Belanda dari Partai Kebebasan (PVV), kepada harian Volkskrant, yang dikutip dari Islam Online, Selasa (1/12/2009).

Mayoritas rakyat Swiss yang mengikuti referendum Minggu lalu mendukung pelarangan pembangunan menara masjid baru di negeri itu. Referendum tersebut diusulkan Partai Rakyat Swiss (SVP) yang menganggap menara masjid adalah simbol syariah dan tidak sesuai dengan sistem hukum Swiss.

"Ini adalah pertama kalinya rakyat di Eropa berdiri untuk menentang bentuk Islamisasi," kata Wilders.

"Apa yang bisa dilakukan di Swiss, bisa dilakukan di sini."

Wilders, politisi sayap kanan, dikenal dengan sikapnya yang kerap menghina Islam dan umat Muslim.

Pada Maret 2008 dia merilis dokumenter berdurasi 15 menit, berjudul Fitna, yang menghina Kitab Suci Alquran dan Nabi Muhammad. Belum lama ini dia mendesak dikenakannya denda bagi perempuan yang mengenakan jilbab.

Di Belgia, partai sayap kanan Vlaams Belang akan mengajukan sebuah dekrit kepada parlemen wilayah Flemish. Menurut mereka, menara masjid merusak lingkungan dan identitas budaya yang telah ada.

Liga Utara yang anti-imigran juga mendesak larangan menara masjid di Italia.

"Swiss mengirimkan kita sinyal yang jelas: ya untuk menara lonceng, tidak untuk menara masjid," ujar anggota Liga Utara yang juga Menteri Administrasi Roberto Calderoli.(jri)

Berita Terkait: Swiss

ruang instrospeksi

MEMEGANG TEGUH AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH


                                            

Keterpurukan dan kondisi umat Islam saat ini, bukan disebabkan karena kehebatan dan kemajuan umat lain. Namun disebabkan oleh kesalahan kita sendiri dalam memilih cara hidup yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Sebagian pemuka agama ada yang berperilaku seperti perilaku pemuka agama Yahudi dan Nasrani.

Mereka menyembunyikan yang haq, karena alasan yang bersifat pribadi. Bahkan sebagian yang lain menyembunyikannya karena alasan rejeki. Padahal Ar Razaq itu hanya Allah swt. Bagaimana dapat memperoleh rejeki yang barakah kalau jalannya dengan menyembunyikan yang haq? Sebagian yang lain suka mencampur adukkan yang haq dan yang batil. Sehingga umat tidak bisa melihat dengan jelas mana yang halal dan mana yang haram. Kebenaran yang seharusnya disampaikan dengan jelas menjadi kabur, kelihatan samar-samar.

Sedangkan sebagian besar rakyat jelata malas mempelajari kebenaran langsung dari sumbernya Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga apa yang mereka dapatkan kebatilan yang dipoles sehingga seolah-olah nampak benar. Yang mereka jadikan rujukan hanya mitos, tradisi, dan pendapat para kyai, bukan Al Qur’an dan As Sunnah. Padahal siapa yang dapat menjamin kebenaran dari ketiganya? Tidak ada sama sekali.

Apalagi sebagian yang lain lebih suka hiburan, foya-foya, dan memuaskan hawa nafsu dari pada menuntut ilmu. Panggung-panggung hiburan yang menampilkan para penyanyi ndhang ndhut selalu dipenuhi oleh anak-anak muda, laki-laki maupun perempuan yang bercampur baur. Sedang pengajian yang mengajarkan Al Qur’an dan As Sunnah mereka abaikan begitu saja. Mereka tidak suka dibimbing untuk menjadi bangsa yang maju terpimpin. Mereka lebih suka hidup bebas untuk memuaskan hawa nafsu.

Maka tidak heran kalau yang kita lihat bukan kemajuan tapi kemerosotan, bukan prestasi tapi dekadensi, bukan kehidupan yang aman, tenteram, damai, dan sejahtera, tetapi kehidupan yang resah, gelisah, penuh kebencian dan kedengkian.

Bagaimana kita dapat memperbaiki-nya? Sudahkah kita terlambat untuk berbuat? Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Selama hayat masih dikandung badan, sebelum nyawa sampai di tenggorokan, Allah tetap akan menghargai pertaubatan kita. Sebagai orang awam sebaiknya segera kita berusaha untuk mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga tidak mudah tertipu dan tersesat dalam beramal. Rasulullah saw berwasiat dalam sebuah hadist riwayat Ibnu Abdil Barr :

Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” Apa yang kita fahami dari Al Qur’an dan As Sunnah segera kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Amalan inilah yang memungkinkan terjadinya proses perubahan karakter kita yang jelek manjadi baik, malas menjadi rajin, kikir menjadi dermawan, isyrak menjadi ikhlas.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dari Hudzaifah Rasulullah saw berpesan: Duru ma’a kitabillahi haitsu ma dara (Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah kemana saja dia beredar). Rasulullah saw mengajak kita semua untuk senantiasa mengikuti Al Qur’an. Menjadikan Al Qur’an sebagai imam kita dan pemberi arah gerak kita. Dan menjadikannya sebagai rujukan atas kebenaran, karena Al Qur’an tidak pernah tersentuh oleh kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya (TQS 41: 42).


وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat (TQS 6: 155)

Ayat yang dikutip di atas mengingatkan kepada kita semua untuk mengikutinya, mengikuti aturan, tata kehidupan dan nilai-nilai moral yang diajarkan Allah di dalamnya dan mengingatkan kita untuk bertakwa agar kita mendapatkan kasih sayang-Nya.

Begitu pentingnya bertakwa sehingga beliau saw juga berpesan: “Ittaqillaha haitsu ma kunta” (bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada.) Umat ini terpuruk dan hina karena jauh dari cinta dan kasih sayang-Nya. Untuk itu hanya dengan kembali bertaat kepada-Nya dan mengikuti sunnah nabi-Nya kita akan mendapatkan cinta dan kasih sayangnya (QS 3: 31). Bahkan dengan jalan berbuat taat kepada Allah dan Rasul-Nya inilah kita akan mendapatkan kemenangan yang besar (QS 4: 13). Akan tetapi sebaliknya kalau kita durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya yang akan kita peroleh tiada lain kecuali neraka dan siksa yang menghinakan (QS 4: 14).

Sebagai tokoh masyarakat, pemuka agama, atau orang yang dituakan di lingkungannya, hendaklah kita berusaha untuk senantiasa meningkatkan kualitas moral dan intelektual kita masing-masing. Dengan senantiasa mengoreksi pikiran, ucapan, dan amalan kita dengan ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah. Apa yang sesuai kita syukuri dengan terus meningkatkan diri dan apa yang tidak sesuai segera kita tinggalkan.

Dunia ini bergerak dengan cepat, anak muda maju dengan pesat didukung oleh berbagai fasilitas baru seperti CD, komputer, televisi, dan internet. Sebagai orang tua kalau kita tidak bergerak maju, merasa cukup ilmu yang dimiliki, maka kita akan tertinggal dari yang muda. Bukan masanya lagi kita memperdebatkan khilafiyyah. Dengan semangat kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, mari kita saling menghormati. Lana a’maluna walakum a’malukum. Mari kita saling bekerja-sama, kalau memang tidak bisa mari kita sama-sama bekerja.

Al Ustadz Drs Ahmad Sukina

MTA-Online.Com | Situs resmi Majlis Tafsir Al-Qur’an

ruang prinsip

 WHAT IS TIME ...?

WAKTU ADALAH ARTI KITA. WAKTU ADALAH PEDANG KITA. JIKA KITA TAK BISA MENGGUNAKANNYA DENGAN BAIK, MAKA JUSTRU AKAN TERBUNUH OLEHNYA. BUATLAH ARTI KITA DENGAN WAKTU YANG DIBERIKAN INI. YANG KELAK KAN MENJADI TONGGAK KEHIDUPAN ABADI NANTI.......................

YOU MUST CAN !!! IT IS SURE...

 
 
 
 
 
 
 
 
Muqaddimah
Pada hakekatnya, segala sesuatu yang berwujud selalu memiliki konsep ruang dan waktu. Konsep ruang untuk menyatakan kisaran tempat, dan konsep waktu menjadi penegasan masa keberadaan sesuatu. Ini menjadi titik tolak keimanan kita, bahwa selain Allah SWT; segala yang ada di alam semesta adalah makhluq, dan karenanya bersifat hawadits. (saat ini menjadi “ada”, setelah sebelumnya melalui tahapan masa “tidak ada”). Sebagai contoh, dunia: dari bahasa Arab, dunyâ, yang berarti tempat yang terdekat.
Kata ‘dunia’, mencakup dua pengertian; dunyâ dan ûlâ. Pengertian pertama mengandung konsep ruang, sedangkan konsep waktunya ialah ûlâ, seperti dalam firman Allah: “wa lal âkhiratu khayrun laka minal ûlâ”. Jika meruntun sebatas pemahaman simpel, waktu menjadi per­soalan yang sangat abstrak, sehingga terefleksi dalam sebuah hadis yang mungkin agak aneh, “Janganlah kamu menyalahkan waktu, karena waktu itu adalah milik Tuhan.”
Serupa dengan konsep ruang dan waktu, Nur Khalis Madjid menjelaskan: “Dalam bahasa Latin, ada konsep waktu yang disebut saeculum, maka ada istilah secular yang artinya masa kini. Konsep ruangnya adalah mundus, maka ada istilah mondial, yang artinya dunia. Saeculum itu padanannya ‘ûlâ, yaitu waktu yang pertama, lawan dari al-âkhirah. Ungkapan “dunia-akhirat” sebenarnya sedikit tidak simetris, sebab dunia merupakan konsep spasial, sedangkan akhirat merupakan konsep temporal”.
Jadi, kenyataan itu bisa dikenali sebagai konsep ruang (special concept) ataupun konsep waktu (temporal concept), bahasa Arabnya, dunyâ dan ‘ûlâ. Perkataan al-dunyâ yang berarti ‘yang terdekat’ itu sebetulnya betuk feminin dari al-‘adnâ. Al-‘adnâ adalah bentuk maskulinnya. Mengapa gendernya feminin? Ada kecenderungan dalam bahasa Arab bahwa hal-hal yang besar selalu diasosiasikan pada perempuan (muannas): matahari, surga-neraka, langit, dunia, dan lain-lain. Ini gejala bahasa, tetapi penting diperhatikan karena kemungkinan ada motif kultural di dalamnya.
Alasan lain mengapa perkataan al-dunyâ itu mengambil bentuk gender feminin adalah sebagai berikut: al-hayât-u ‘l-dunyâ (hidup yang terdekat) adalah lawan dari al-hayât-u ‘l-‘âkhirah (hidup yang kemudian). Ini konsep spasial atau konsep ruangnya, sedangkan konsep temporalnya adalah al-‘ûlâ. Al-‘ûlâ inilah yang persis merupakan lawan dari al-‘âkhirah. Al-‘ûlâ adalah bentuk feminin dari al-awwal. Maka kalau mau simetris dari segi bahasa, istilahnya bukan dunia-akhirat, tetapi ‘ûlâ-‘âkhirat; keduanya sama-sama konsep tem­poral. Hanya perlu digaris­bawahi bahwa manusia hidup di dunia ini jauh lebih dari segi ruang. Sedangkan waktu yang akan datang, setelah mati, karena tidak tahu ruangnya, kesadarannya lebih tampak pada konsep waktu.
Dalam bahasa Latin, saeculum, yang dari situ diambil perkataan secular, memiliki arti persoalan-persoalan sekarang. Tetapi kalau sudah menjadi paham sekularisme, itu artinya suatu paham yang tidak mengakui adanya hal yang akan datang. Kemudian konsep ruangnya adalah mundus. Jadi alam raya ini disebut saeculum atau mundus. Demikian cendikiawan yang akrab dipanggil Cak Nun ini menjelaskan tentang konsep ruang dan waktu.

Makna Waktu
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan, waktu adalah: “seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang, maupun yang akan datang.” Sedangkan dalam Al-Qur’an, seperti penjelasan M. Quraish Shihab, kata waqt (waktu) ditemukan tiga kali, hanya saja konteks penggunaan dan makna yang terkandung kurang sepadan dengan penjelasan di atas. Kata tersebut digunakan dalam konteks pembicaraan tentang masa akhir hidup di dunia ini. (baca QS 7: 187; 15: 38, dan 38: 81). Dari sini, dan setelah menelusuri seluruh bentuk kata lain yang berakar pada kata waqt, para pakar akhirnya menyimpulkan bahwa waqt adalah batas akhir dari masa yang seharusnya digunakan untuk berusaha sebaik mungkin.
Senada dengan pepatah Arab yang berbunyi: ”kod faata ma faata”: yang lalu, telah berlalu. Sebuah penegasan bahwa waktu yang telah lampau, sekali-kali tidak akan pernah datang lagi. Ia hanya akan tersisa sebagai kenangan; menjadi cerita apik, kisah indah, jika dilakoni dengan kebenaran dan keindahan. Sebaliknya, tak jarang masa lalu kelabu menjelma sebagai bayangan yang terus menghantui, memperpanjang deretan memori hitam, karena ia tercatat sebagai hasil tipu daya syaitan, dan menjadi lembaran kelam masa silam.
Demikianlah keberadaan waktu bagi kita di dunia ini, bagaikan cermin yang memantulkan “paras” prilaku kita. Hanya memberikan dua pilihan; kebaikan, atau keburukan. Tidak lebih. Karena, pada dasarnya manusia di kehidupan ini, tak lain hanya menjadi cerita bagi manusia-manusia setelahnya. Kebaikan dan keburukannya, lambat-laun akan tersingkap dalam tahapan seleksi sejarah. Akan selalu segar dalam kenangan, kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudara tirinya, Nabi Musa dan Fir’aun, Nabi Muhammad saw. dan para kaum kafir Quraish perongrong dakwah Islam. Semuanya menjadi kisah yang tak akan pernah usang dimakan waktu.

Waktu dan Kerja Keras
Selanjutnya Quraish shihab menjelaskan, kata lain yang digunakan oleh Al-Qur’an untuk menunjuk kepada ‘masa’ adalah ‘ashr. Kata ini, walaupun hanya ada satu (pada surat Al-‘Ashr), kaitannya dengan “kerja keras” justru sangat jelas. Apalagi ia digunakan dalam konteks pembicaraan kehidupan duniawi.
Dari makna katanya, ‘ashr berarti memeras atau menekan sekuat tenaga, untuk menghasilkan saripati sesuatu. Maka kata “’ashir” bermakna jus (hasil perasan). Al-Qur’an menamainya ‘ashr, karena manusia dituntut untuk menggunakannya sekuat tenaga, memeras keringat, agar bisa menghasilkan sari kehidupan.
Sepadan dengan pengertian tersebut, ‘ashr adalah masa menjelang terbenamnya matahari; masa seseorang telah selesai memeras tenaganya. Karena, pada hakekatnya, sejak pagi hingga siang hari, adalah saat untuk bekerja dan malam hari untuk istirahat. (QS 27: 86). Jadi, waktu termasuk modal utama manusia dalam berusaha: Apa yang luput dari usaha, masih mungkin untuk diraih esok hari, selama yang luput tersebut bukan waktu.
Sedemikian pentingnya arti waktu dalam kehidupan, hingga Allah SWT, menjadikannya bergandengan dengan kewajiban ibadah utama seorang muslim, yakni shalat lima waktu. Al-Qur’an menjelaskan bahwa shalat merupakan kewajiban “berwaktu” atas kaum beriman (lihat QS, 4:103). Yaitu, diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, dimulai dari dini hari (shubh), diteruskan ke siang hari (zhuhr), kemudian sore hari (‘ashr), lalu sesaat setelah terbenam matahari (maghrib), dan akhirnya di malam hari (‘isyâ’).
Hikmah di balik penentuan waktu itu ialah agar kita jangan sampai lengah dari ingat di waktu pagi, kemudian saat kita istirahat sejenak dari kerja (zhuhr) dan, lebih-lebih lagi, saat kita santai sesudah bekerja (dari ‘ashr sampai ‘isyâ’). Sebab, justru saat santai itulah biasanya dorongan untuk mencari kebenaran menjadi lemah, dan tak jarang kita malah tergelincir dalam gelimang kesenangan dan kealpaan. Karenanya, menjadi kewajiban saat melaksanakan sholat, mentaati alias disiplin waktu. Dan tentu, agar mengisi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Tuhan (QS 94: 7-8).

Kerugian Menyepelekan Waktu
Salah satu realita perbedaan yang nampak antara Negara miskin, berkembang dan Negara maju adalah cara atau kebiasaan memanaj waktu. Semakin maju sebuah Negara, maka akan semakin berharga wujud waktu. Tak heran, jika mereka bersemboyan: “time is money”, waktu adalah uang. Peluang waktu sama artinya peluang emas untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Maka tolak ukur penghitungan waktu, tidak lagi menggunakan hari, tapi jam, bahkan menit.
Beda halnya dengan kebiasaan kita, yang katanya masih berada dalam tahap Negara berkembang. Efisiensi waktu masih jauh dari target harapan. Realita terlambat, jam karet, waktu molor, masih sangat akrab dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Sebuah kenyataan yang sangat tragis, karena justru dianggap hal wajar oleh bukan saja dari kalangan awam, tapi justru diteladani para elit masyarakat; pemerintah, tokoh agama. Padahal, mayoritas penduduk negeri ini adalah umat Islam.
Kebiasaan hidup santai bangsa yang terus mengakar, seakan membingkai bahaya kerugian menyepelekan waktu, sehingga nampak remang-remang dan nyaris tertutupi. Hanya ketegasan Allah SWT. dalam Al-Qur’an surat Al-‘ashr, yang bersumpah dengan wujud waktu, menyatakan:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Dalam tafsirnya, Quraish Shihab menjelaskan: “kerugiannya adalah karena tidak menggunakan ‘ashr, dan kerugian tersebut seringkali disadari pada waktu asar (menjelang terbenamnya matahari).” Hanya ada empat kelompok yang terhindar dari kerugian ini: pertama, yang mengenal kebenaran (ậmanủ); kedua, yang mengamalkan kebenaran (‘amilủ al-shalihật); ketiga, yang ajar-mengajar menyangkut kebenaran (tawậshauw bi al-haq); dan keempat, yang sabar dan tabah dalam mengamalkan serta mengajarkan kebenaran (tawậsauw bi al-sabr).
Ternyata, sekedar mengetahui dan mengamalkan kebenaran saja masih belum cukup untuk menghindari kerugian. Kita masih dituntut untuk saling menjaga, memelihara serta meningkatkan kualitas, kemudian berjuang bersama untuk meraih anugrah-anugrah Allah, dan tentunya, harus sabar.
Sejak kecil, minimal sehabis sekolah, kita terbiasa membaca surat Al-‘Ashr, sebagai do’a perpisahan. Namun kebiasaan tersebut tak lebih menjadi “koor” bersama, tanpa ada upaya menjalankan maksud tersirat. Perlu juga kiranya, prinsip surah ini kita tancapkan dalam hati, setiap akan memulai kegiatan, agar waktu kita tidak terisi dengan aktivitas yang merugikan. 

ruang suara oTAK

JADILAH JIWA SEJATI DALAM RUANG WAKTUMU

 

KEEP ALWAYS ISTIQOMAH IN THE ALLAH STREET

 BUNUH KABUT KELAM PENGGRIDU JIWAMU TUK OPTIMALKAN AKSIMU

RUANG INFO

   

    G E Y S E R

Geyser adalah sejenis mata air panas yang menyembur secara periodik, mengeluarkan air panas dan uap air ke udara. Nama geyser berasal dari kata Geysir di Haukadalur, Islandia. Kata itu kemudian menjadi kata kerja bahasa Islandia gjósa, "menyembur".

Pembentukan geyser bergantung kepada keadaan hidrogeologi tertentu yang hanya terdapat di beberapa tempat di Bumi, dan karena itu geyser adalah fenomena yang jarang ditemui. Sekitar 1000 ada di seluruh dunia, sekitar setengahnya di Yellowstone National Park, Amerika Serikat. Aktivitas semburan geyser dapat berhenti karena pengendapan mineral di dalam geyser, gempa bumi, dan campur tangan manusia.

Penyemburan nitrogen cair telah diamati di bulan planet Neptunus, Triton. Selain itu di kutub selatan planet Mars yang ditutupi es, terdapat kemungkinan sembuaran karbon dioksida. Fenomena ini juga sering disebut geyser, namun bukan disebabkan oleh energi geothermal, melainkan pemanasan oleh matahari dan efek rumah kaca. Di Triton, nitrogen dapat menyembur dengan ketinggian 8 km.

 

Aurora

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Aurora Borealis di atas Danau Bear, Alaska
 

Aurora adalah fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari (angin matahari).

Di bumi, aurora terjadi di daerah di sekitar kutub Utara dan kutub Selatan magnetiknya. Aurora yang terjadi di daerah sebelah Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis (IPA /ɔˈɹɔɹə bɔɹiˈælɪs/), yang dinamai bersempena Dewi Fajar Rom, Aurora, dan nama Yunani untuk angin utara, Boreas. Ini karena di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi di antara September dan Oktober dan Maret dan April. Fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa.